Wednesday, July 28, 2010

Liputan Media (Republika) Aksi 28 Juli 2010 (Operasi Pasar Jalanan)

Pemerintah Tak Serius Tangani Makelar Pangan
Rabu, 28 Juli 2010, 15:59:15 WIB
Laporan: Ari Purwanto

DEMONSTRASI
Jakarta, RMOL. Pemerintah harus bertanggung jawab atas melambungnya harga pangan yang terjadi belakangan ini.

Hal tersebut diteriakkan oleh Badan eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Indonesia (UI) pada demontrasi yang digelar di depan Istana Negara, Rabu (28/7).

"Isu pangan dan sembako merupakan isu yang sangat sensitif. Sensitifnya isu ini dikarenakan berdampak langsung kepada keberlangsungan hidup rakyat, terutama rakyat miskin," ujar Ketua BEM UI, Imaddudin Abdullah, Rabu (28/7).

Bila kita telisik lagi, masih menurut Imaddudin, alasan klasik mengenai naiknya harga pangan selalu dikaitkan dengan masalah iklim atau masalah kelebihan permintaan, namun pemerintah selalu lamban untuk mengatasinya.

"Pemerintah harus tegas dan cepat dalam menjamin kebutuhan paling dasar ini, karena kita tentunya tidak menghendaki penderitaan bagi rakyat kecil," lanjut Iman.

Selain tuntutan itu, BEM UI juga meminta pemerintah untuk memberantas makelar pangan yang menyengsarakan petani kecil Indonesia serta pemberdayaan subsidi pupuk yang tepat sasaran untuk petani kecil.[arp]

http://www.rakyatmerdeka.co.id/news/2010/07/28/99597/Pemerintah-Tak-Serius-Tangani-Makelar-Pangan

release BEM UI MENUNTUT PENURUNAN HARGA SEMBAKO

SIARAN PERS 28 JULI 2010

BEM UI MENUNTUT PENURUNAN HARGA SEMBAKO


Isu pangan dan sembako merupakan isu yang sangat sensitif. Sensitifnya isu ini dikarenakan berdampak langsung kepada keberlangsungan hidup rakyat, terutama rakyat miskin. Bila kita telisik lagi, alasan klasik mengenai naiknya harga pangan selalu diseputar iklim atau masalah kelebihan permintaan, sedangkan bumi dan alam Indonesia sejatinya memiliki potensi bahkan tidak hanya untuk swasembada pangan bahkan juga berdaulat dalam hal pangan.

Kenaikan harga bahan pangan ini sudah menjadi suatu rutinitas setiap tahunnya, namun untuk tahun ini kenaikan harga yang terjadi terhitung diluar normal, karena satu bulan sebelum bulan puasa pun harga-harga sudah melonjak naik, sebut saja harga cabe yang meroket hingga 100% lebih dan disusul oleh beras, ayam, dan derivasi pangan lainya, ini merupakan salah satu bentuk dampak psikologi pasar yang negatif sehingga masyarakat menaikkan harga secara spekulatif karena harga komoditas lain yang naik.

Kondisi seperti ini pada akhirnya justru mengorbankan rakyat karena tiba-tiba harga naik dengan sangat cepat dan mencekik rakyat. Pemerintah seharusnya tidak lalai dan mampu mengidentifikasi masalah ini, isu-isu klasik seperti kekurangan stok di pasar seharusnya sudah diantisipasi melalui operasi pasar, kekeringan lahan akibat perubahan cuaca seharusnya sudah dapat di identifikasi jauh-jauh hari untuk menjaga supply bahan-bahan pangan, tengkulak-tengkulak yang bermain di sektor distribusi juga bukan hal yang baru, mereka sudah ada sejak lama dan tidak pernah ditindak secara tegas.

Untuk itulah Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI), berinisiatif untuk mengadakan operasi pasar di depan Istana, sebagai bentuk kritik sosial terhadap kelambanan pemerintah dalam mengantisipasi naiknya harga pangan. Karena menurut kami, jika untuk hal yang paling dasar saja seperti masalah perut rakyat, Pemerintah sudah lalai, jangan harap akan ada pertumbuhan ekonomi yang tinggi, tegaknya supremasi hukum, pendidikan yang berkualitas, dan terwujudnya mimpi-mimpi bernegara lainya. Oleh karena itu kami, BEM UI menuntut:

1.Pemerintah Republik Indonesia untuk bertindak cepat mengatasi kenaikan bahan pokok.
2.Pemberantasan makelar pangan yang menyengsarakan petani kecil Indonesia.
3.Pemberdayaan subsidi pupuk yang tepat sasaran untuk petani kecil.

Pemerintah harus tegas dan cepat dalam menjamin kebutuhan paling dasar ini, karena kita tentunya tidak menghendaki penderitaan bagi rakyat kecil. Tuntutan ini berasal dari kecintaan yang mendalam terhadap negeri ini.

Hidup Mahasiswa!!!
Hidup Rakyat Tertindas Indonesia!!!


Humas BEM UI:
Ilham Dwi (085697226883)

Tuesday, June 29, 2010

Liputan Media (Okezone.com) pembuatan jurnal UI untuk Bangsa

News Kampus


Jurnal Ilmiah UI untuk Bangsa

Selasa, 29 Juni 2010 - 12:35 wib
text TEXT SIZE :  
Share
Rifa Nadia Nurfuadah - Okezone
Ilustrasi: ist.
JAKARTA - Menyikapi fenomena globalisasi, Departemen Pendidikan dan Keilmuan Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) 2010 mengundang seluruh mahasiswa UI untuk berpartisipasi dalam penyusunan jurnal ilmiah mahasiswa bertajuk UI untuk Bangsa volume 1. Para mahasiswa UI bisa menyumbangkan gagasan dan solusi menghadapi tantangan global sesuai dengan disiplin ilmu masing-masing.

Seperti dikutip dari situs uiuntukbangsa.co.cc di Jakarta, Selasa (29/6/2010), jurnal ini akan memuat 24 tulisan terbaik yang terbagi dalam dua seri, yaitu Seri Sosial Humaniora serta Seri Kesehatan, Sains, dan Teknologi. Masing-masing seri terdiri dari 12 tulisan. Rencananya, jurnal UI untuk Bangsa volume 1 akan diluncurkan pada 25 November 2010 dan dicetak sebanyak 500 eksemplar untuk didistribusikan secara gratis ke 52 perguruan tinggi negeri seluruh Indonesia dan lembaga-lembaga kemahasiswaan internal Universitas Indonesia.

Volume pertama UI untuk Bangsa mengangkat tema Pemberdayaan Kompetensi Intelektual Muda untuk Menghadapi Tantangan Global. Para penyumbang tulisan bisa individu atau kelompok beranggotakan 2-3 orang dan masih aktif sebagai mahasiswa UI program S1 maupun diploma. Tulisan yang dikirimkan berupa hasil penelitian lapangan, laboratorium, atau kepustakaan dan belum pernah dipublikasikan sebelumnya. Tulisan ditunggu redaksi UI untuk Bangsa hingga 31 Agustus 2010.

Informasi selengkapnya bisa dilihat di uiuntukbangsa.co.cc. (rhs)

Wednesday, May 12, 2010

Liputan Media (primaironline) Aksi 12 Mei 2010 (BEM UI Bakar Kembali Semangat Reformasi)

12 Mei 2010 | 14:37 | Politik
Ukuran Huruf Decrease Font Size Increase Font Size
Ilma Hairinasari
Demo BEM UI (Ilma/Primair)
Jakarta - Puluhan mahasiswa yang berasal dari Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia melakukan aksi unjuk rasa peringati 12 tahun reformasi dengan aksi tidur dijalan dan tabur bunga.

Menurut Ketua BEM UI, Imaduddin agenda reformasi yang berjalan selama lebih satu dasawarsa dinilai masih belum menyentuh persoalan-persoalan substansial yang menyentuh langsung kepada rakyat.

Sehingga, ia mengatakan untuk menekankan tiga aspek yang harus segera diperhatikan secara seksama, pasalnya begitu penting untuk kebutuhan rakyat.

"Tiga aspek tersebut yang menjadi hal bagi kami untuk segera dilaksanakan, " ujar Imaduddin saat ditemui di sela-sela aksi di depan Istana Negara, Jakarta, Rabu(12/5).

Pertama, BEM UI meminta pemerintah memperjelas status payung hukum seluruh perguruan tinggi, pemerataan pendidikan bagi daerah tertinggal, peningkatan anggaran pendidikan yang berorientasi pada perbaikan kualitas bagi peserta didik dan meminta pelaksanaan ujian nasional sebagai pemetaan pemerataan pendidikan bukan standar kelulusan.

Kedua, adanya transparansi penyelesaian kasus Bank Century dan penguatan kembali fungsi Komisi Pemberantasan Korupsi(KPK).

Dan terakhir perlu penguatan ekonomi kecil, Usaha Kecil dan Menengah serta penguatan industri lokal.

(feb)

http://www.primaironline.com/berita/politik/peringati-12-tahun-reformasi-bem-ui-minta-penyelesaian-century